Moments and Memories

Moments and Memories
Showing posts with label Point of View. Show all posts
Showing posts with label Point of View. Show all posts

Thursday, 15 November 2018

Jujur katakan Salah

Dalam berkomunikasi dengan anak, banyak hal yang membuat saya mempertimbangkan kosakata yang akan digunakan.
Istilah memperhalus kata, memoles kata sedemikian agar anak itu mengerti dan yang paling utama selalu mengusahakan agar anak tidak merasa jatuh dengan ucapan yang ada.

Contoh pertama, Ketika anak umur 5 tahun yang memukul temannya, kita tidak langsung katakan dia nakal karena ini memberikan label nakal kepada diri anak itu.
Selebihnya kita katakan, perbuatan dia salah dan harus sayang kepada teman karena dia ciptaan Tuhan.
Namun perbuatan itu terus terulang dan sebagai orang dewasa juga terus mengulang untuk menyanyangi teman disertai dengan doa berharap anak ini berubah karena dia masih kecil.

Contoh kedua, ketika anak 10thn diinjak oleh kakak 11thn memasuki usia pra remaja dan dilihat oleh guru. Dinasehati oleh guru dengan kata "jangan bermain kasar".
Kemudian hari, anak usia 10thn ini menginjak adik usia 9thn berulang dua kali dan menganggap ini hanya "main kasar". Padahal keduanya tidak sedang ada interaksi bermain dan tiba saja anak usia 10thn ini datang menginjak. Yang kemudian orang tua pun menyetujui anak itu hanya main kasar saja.

Hal ini sungguh membuat saya bertanya-tanya. Apa batasan dalam memperhalus kata-kata?

"Main kasar"
Apa itu konsep bermain di pikiran anak- anak? Bermain itu adalah melakukan hal yang menyenangkan hati. Jika kedua belah pihak merasakan senang barulah itu bermain.

Apa arti kasar dalam benak anak? - lawan kata lembut,halus, yah kalo tidak halus yah kasar.

Lalu kata "main kasar" diterjemahkan sebagai masih bermain hanya tidak lembut.

Lantas jika perbuatan menginjak disamakan dengan "main kasar", tidaklah heran anak yang mengalami atau melakukan perbuatan itu cenderung mengulang kembali kepada orang lain. Karena dibenaknya, saya main koq, hanya tidak lembut, hanya kasar.

Bagaimana jika kelakukan menginjak ini dibawa sampai dewasa, akankah sekeliling mengatakan dia hanya "main kasar"?

Pilihan kata yang tidak tepat dapat menyesatkan.

Katakanlah bahwa "perbuatan anak itu salah" dan "anak itu menyakiti temannya".
Berikanlah pengertian yang dia lakukan adalah perbuatan dosa.
Siapa yang empunya manusia, Tuhan yang ciptakan. Tuhan mau kita mengasihi sesama bukan menyakiti sesama kita.
Apakah penjelasan demikian juga akan mengubah anak? Tidak juga. Tapi kita sudah katakan yang sejujurnya atas perbuatan yang anak lalukan. Bukan memperhalus hingga menyesatkan pengertian anak.

Saya tentunya masih terus belajar, oh kiranya Tuhan memberi hikmat dalam menjadi orangtua.

Thursday, 8 February 2018

Ketika Anak minta Mandiri

Satu kali Josh bilang ke mama.
Kalo sudah kelas 3SD dia mau bisa sendiri ke alfamart jajan. Bisa keluar ke jalan raya diluar perumahan dengan naik sepeda.
Ungkapan kemandirian dari anak umur 7.5thn.

Wah semangat yah kamu Josh.

Tapi Josh sepedanya yang ini kan sudah ada yang rusak.

Nanti aku mau beli sepeda baru. Aku pakai duit dari angpaoku.
Angpao dari akong ama bisa buat beli sepeda.

Malam ini Mama ada baca di medsos, ada anak yang mau diculik didepan sekolahnya.
Yah Josh, Mama tak berani ijinkan kamu sendiri. Bahkan Papa yang biasa lebih berani malah bilang tunggu kamu smp.

Terkadang hal ini menjadi dilema. Bagaimana menjawab Josh untuk ungkapan kemandiriannya.

Jika melarangnya, maka keinginan itu perlahan sirna.
Jika membiarkannya, begitu banyak kehawatiran yang bisa berujung penyesalan.

Akhirnya Mama menjawabnya, oke Josh, yang rajin latihan sepedanya yah, sehingga kamu bisa mengendalikannya dengan baik.
Diapun tersenyum senang.

Terpikir idenya, Mama sudah tunggu di Alfa. Papa ikuti dengan mobil disamping Josh.
Bisa juga Papa beliin Mama sepeda dulu, jadi sepedaan bareng. Josh di depan Mama dibelakang kawal.
Tentu Mama Papa terus mencari rangkain ide ide lainnya untuk mewujudkan keinginan mandiri anak kelas 2sd ini.

Saturday, 11 November 2017

Family isn't always Blood

Today, when I search the family quote, I found these.


I'm so happy today as I feel what these quote means.
I got a family with Domba Kristus community.
Here how I spent the saturday.
Try to getting know and sharing our life.

For the very first time, with Josh, visited Rovi and Yona's home.
Yona is the most positive person and full of hope I ever met till now. While the Rovi is so much loving husband to hers.
Welcome by Chanel, Josh a little bit shock by how big the size. But after a while we been amazed by the warm, sweet, nice, playfull gesture. Sound like the owner.
It was a pleasure having a warm lunch with this family. A short meaningful one.
Will visit again one day.


At noon, we got to gather with other families in Ko Andy and Ci Fei home.
This family is another one to idolized hehehe.
Each families have their own struggle, pray may we can keep encourage each other in God's love. 
Growing in Faith, growing more like Christ.

Sunday, 17 September 2017

Belajar dari Anak Kecil - Kebesaran Hati

Hari ini Josh ajak koko Adison ke gereja dan mereka beribadah di kelas bersama.

Dalam perjalanan makan siang, mereka ikut mobil akong. Sampai ditempat makan Mama melihat Josh sudah sedih dan tidak mau dekat koko lagi.

Ternyata Josh main games. Kemudian dia pinjamkan koko. Sesudah itu koko keasyikan main dan pas diminta balik oleh Josh, koko tidak mau pinjamkan.

Waktu makan, Mama tanya ke Josh.
"apakah kamu sudah mau berbaikan dengan koko?"
Josh: " enggak mau. Aku enggak mau temenan sama koko lagi selama lamanya"
Wallah lebay banget jawabnya yah.
Mama: "Josh bilangnya kalo enggak mau temenan or main saat ini saja. Jangan pakai selama lama nya. Memang kamu mau sampai selamanya."
Josh: "aku tak mau maafin. Aku enggak mau."
Mama :"yah sudah Josh kamu tenang saja dulu yah. Tapi jangan selama nya yah." "Lagipula hari ini bukan waktu kamu main games. Harusnya mama juga hukum kamu. Tapi mama maafin kamu sekarang. Kamu mau belajar maafin koko?"
Josh: " ngk mau"

Lalu kitapun mulai makan. Tiba tiba di tengah makan, Josh bangun nanti keluar dari tengah tempat duduk dan berdiri.
Koko: "Josh kamu mau pup?"
Mama:"kamu mau kemana?"
Josh hanya geleng geleng. Dia jalan maju lagi ke arah koko.
Koko: "kamu mau baikan?"
Josh: "iya." lalu mereka salaman dan baikan.
Mama bertepuk tangan dan memeluk Josh, so sweet of you Josh. Tuhan senang lihat kemurahan hatimu memaafkan.
Josh pun kembali makan. Sehabis makan giliran koko yang datang menghampiri Josh dan bermain games bahasa mandarin.
Melihat bagaimana Josh dan koko bisa berbaikan, memaafkan, mama belajar bagaimana dengan diri mama yah.
Mungkin kita berpikir, iyalah gampang maafin kan soal bergantian main saja, anak kecil mah memang gampang lah.
Tapi bukan karena itu persoalan mudah. Persoalan soal main bergantian bagi mereka mungkin sudah seperti persoalan orang dewasa yg direbut hak nya.
Namun dalam natur keberdosaannya, hati mereka masih lembut, memberi maaf.
Biarlah kita terus belajar dari anak anak.

Malamnya Josh kirim message ke koko untuk bertemu minggu depan untuk kr gereja bersama dan Josh bilang "God bless".

Kemudian Mama bilang hari ini mama senang melihat kebesaran hati Josh memaafkan. Josh lantas menjawab mama "Ma, aku biasa sendirian dulu atau habis makan maka aku bisa tenang. Nanti aku sudah tenang aku bisa maafkan." Wah Josh, kamu sudah mulai belajar menenangkan dirimu yah.

P.S. soal foto, dalam perjalanan Josh bilang. Tahu ngk koko kenapa mama suka foto? Biar kita bisa lihat kenangan kita nanti. Pernah kemana dan ngapain. So sweet of you Josh.

Monday, 30 May 2016

Kelemahan dan Disiplin

Semalam dalam percapakan di mobil, Josh menanyakan, apa kelemahan mama.

Mama jawab, mama masih suka terbawa emosi, kurang sabar.

Kemudian Josh jawab, kalo Josh masih kurang taat. Kadang taat kadang tidak.

Lantas Josh lanjut tanya kepada papa. Kalo papa apa?. Papa jawab, bahwa papa kadang malas.

Josh: papa malas kalo dirumah saja. Kalo di kantor kan papa kerja loo.
(Ucapan josh sangat membesarkan hati papa).

Kemudian, Kita terangkan bahwa untuk bisa mengalahkan kelemahan kita, itu butuh latihan dan disiplin. Contohnya saat mama sudah panggil josh. Josh langsung ingat bahwa taat adalah hal yang baik, jadi Josh langsung taat.

Namun ternyata pembicaraan kemarin malam tidak berakhir begitu saja.

Hari ini, saat pulang sekolah, kami mampir (Josh, mama dan Pho-pho), kerumah ku-pho. Saat akan pulang langit sudah gelap, mama dah panik karena cucian 2 jemuran masih di luar rumah, sedangkan Pho-pho masih milih-milih sayur yang dijual gerobak dorong.

Sesudah akhirnya mama berteriak memanggil pho-pho agar segera. Baru jalan beberapa lama, hujan mulai netes.
Mama mulai ngomel, kenapa Pho-pho lama banget pilih nya, padahal sudah tahu mau hujan dan mau cepat-cepat, sekarang coba lihat hujan sudah turun.
Sambil mama mulai kebut setiran.

Pho-pho pun terdiam di mobil.
Mama pun mulai merasa bersalah. Harusnya bisa lebih sabar, Tuhan pssti bisa menolong dan bisa saja di depan rumah beneran belum hujan.

Ternyata benar, saat akan belok ke jalanan rumah, disana tidak hujan walaupun langit sudah mendung.
Pho-pho bilang, syukurlah tidak hujan.

Mama merasa menyesal praktek disiplin untuk kurang sabarnya tidak jalan, dan berkata kepada Pho-pho: Tuhan memang baik, Tuhan tidak mau pho-pho kena omelan anak nya yang galak (alias mama) karena hujan.
Josh nyeletuk: Iya, walo mama galak, tapi Josh tak apa..
Pho-pho bilang: Puji Tuhan...

Pembicaraan yang tidak biasanya dan kami tertawa bersama di mobil.

Sampai rumah, saat jemuran dipindahkan, hujan deras langsung turun, dan herannya cuma sebentar 5menit.
(Memang kalo kena ke baju jemuran, nyesek karena akan basah semua, tetapi kan baju bisa dicuci lagi).

Mama kembali belajar akan keajaiban Tuhan dan campur tangan Tuhan dalam kejadian hidup sehari hari.

Tuesday, 15 December 2015

Car hit by Car

Hey, It's Already December.
I love the whether, and one moment to remember Jesus come.

But we start December with a bit uncomfortable situation.

Yes, I drive since Jost start the school on September.

Someone car hit the mine on the car park, and it's worse.
It's was saturday, time to accompany Josh for his piano lesson.
While in the middle of lesson, someone appears and told us one of the car get hit and that's mine.

Fortunately the driver didn't escape, she want to be responsible for the car.
Fortunately we also have an insurance.

But it's will took almost one month for fixed the car, sigh.......

What make me sad, it's holiday time now, I will need the car more than school day. 

For me, I start to think why I feel burden by the accident.
I used to say to calvin, If one day we didn't have a car, It's ok to took public transport even in Indonesia, it's not convinience.
When it's happen, why is so hard?.... 

Of course I'm upset, I have drive carefully, park carefully, yet, the car get hit.
But as long as it's can be fixed, it's shall calm me.

Then I realized, I'm upset because my comfort zone being taken.
I get used to the car now, just one step to the front door, I can get everywhere now.

Fuih....
Ok, let's move on ^^.


Saturday, 24 October 2015

Spring ladies

A Very Late Post.

Saat aku masih dalam masa keberdukaan yang berlangsung walau sudah berjalan hampir setengah tahun kehilangan seorang adik tercinta, entah mengapa aku melihat acara ini.

SprinG for Ladies.

SprinG stand for Spiritual Renewal in God.

Yang menjadi pesertanya adalah wanita, dan akan berlangsung selama satu hari dimana akan lebih banyak quiet time.

Setelah memikirkan bahwa aku membutuhkan satu waktu time out, aku pun membicarakan pada Calvin untuk mengatur bagaimana jadwal Josh hari itu, dan ternyata Calvin mengiyakan untuk membantu mengurus Josh.

Ada pembagian group, ada waktu quiet time, dan ada waktu diskusi group.
Satu hari retreat yang membawa satu perefleksian terhadap diri sendiri.

Secara pribadi aku merasakan bahwa selama ini aku terlalu takut untuk mengeluarkan emosi/perasaan saat berelasi kepada Tuhan. Segala sesuatu dibawa terlalu rasional dan terkadang jatuh dalam kedinginan, hanya ada didalam kepala, namun bagaimana dengan hati?!. Bukankah perasaan yang ada juga diberikan oleh Tuhan, bukankah itu juga berarti aku seharusnya dapat mengungkapkan perasaan hatiku dengan benar tentunya.

Mengingat bagaimana Daud yang telah menjadi raja, saat mengiringi tabut perjanjian Allah, dia menyanyi dengan riang, bersuka cita. Aku merefleksikan diriku lagi bagaimana yah pujian penyembahanku.

Hal lainnya saat membahas mengenai Yeremia. Tentang tujuan hidup dan bagaimana harusnya hidupku sekarang ini.
Saya hanyalah tanah liat di tangan Tuhan.
Sebelum menjadi tanah liat, maka yang lain tidak akan bekerja.
Menyerahkan diri sebagai tanah liat dihadapan Tuhan artinya rela dibentuk dengan cara apapun. Relakah?

Jika Tuhan adalah Pemilik dari segala Ciptaan. Maka artinya:
Pencipta: pemberi tujuan dan aturan main.
Pemilik: saya hanya hamba dan pengelola milikNya.
Tuan: Allah, yang harus saya puaskan.

Refleksi bagiku saat membesarkan anak. Siapa yg Tuhan percayakan, itu punya Tuhan.
Apakah dalam membesarkan anak, aku memikirkan rencana Tuhan bagi Josh, atau aku hanya memikirkan rencanaku saja? Apakah aku sudah mempersiapkan Josh dalam pengenalan akan Tuhan?

Matius 5:16
Yohanes 15:8
Cara Tuhan berkarya berbeda, contohnya melalui Musa dan Yosua. 
Waktu Musa, air dibelah dahulu baru berjalan, tapi saat Yosua, air belum kering tetapi melangkah dulu. Yosua 4:9, 21-24. 
Bergantung pada Tuhan, walau didepan belum kelihatan.
Urusan Tuhan adalah dengan kita sendiri. Masing masing ada kerjaannya.
Setiap detik pastikan jadi pengelola dan setia. Semua adalah soal Tuhan bukan soal saya.
dan Semua ada didalam kendali Tuhan. Sudahkah hidupku berpegang pada kedaulatan Tuhan?

Sungguh sebuah pengalaman yang berharga.

Wednesday, 10 September 2014

Surat Kematian - Meninggal di Rumah - Surat kepada Bethsaida Hospital - Berserta Tanggapan

Aku menuliskan hal ini sebagai bahan pembelajaran yang kuharap berguna untuk nantinya.
Tentu jika mengingat kembali, ada rasa sakit akan perlakuan yang diberikan disaat saya begitu terguncang dan membutuhkan bantuan yang seharusnya secara etika bisa diberikan.

Berikut Surat yang saya layangkan kepada Website Bethsaida Hospital dan Facebook account di tanggal 5 September 2014.

Kepada Bethsaida Hospital.
Adik saya William Tan dirawat dirumah sakit Bethsaida dari tgl 13 Agustus 2014 hingga 1 September 2014 dan kami memutuskan untuk pulang kerumah.
Tanggal 4 September 2014, jam 3 sore, Adik kami berpulang.
Jam 3.30 sore, saya menelpon ke Bethsaida, menanyakan apakah ada dokter yg bisa kerumah untuk memberikan surat keterangan kematian. Dan dijawab, belum ada pelayanan seperti itu. Dan tidak bisa diberikan surat kematian bagi yg tidak dirumah sakit.
Kemudian saya bertanya lagi, apakah bisa jikalau saya memakai ambulan membawa adik saya kesana dan kemudian dari dokter igd nya dibuatkansurat kematian. Kemudian dijawab kembali bahwa akte kematian tidak dapat diberikan kepada yg diluar rumah sakit.
Saya kembali menegaskan maksud saya bahwa saya ingin membawa adik saya kerumah sakit dengan ambulan dan dibuatkan surat kematian disana.
Dari seberang sana diminta untuk menunggu dan saya mendengar diskusi yg ada, dan ada suara yang berkata, "bilang saja tidak bisa."
Daripada menghabiskan waktu mendengar jawaban dari Bethsaida yang tidak juga membantu, aku tutup telponnya supaya waktu yg ada lebih berharga untuk segera mencari bantuan lain.
Beginikah pelayanan Bethsaida hospital, jika masih sakit boleh diterima, tetapi jika sudah meninggal, hanya ingin dibuatkan surat kematian pun tidak bisa. Padahal 3hari sebelumnya kami pasien disana, dan kami pun bersedia membayar jasa ambulan dsb?
Terima kasih untuk kesan yang ditinggalkan.


Saya mempertanyakan slogan dari rumah sakit Bethsaida, Health Care with Heart, Really?

Surat ini tidak pernah dijawab. Tanggal 9 September, saya melayangkan email kepada redaksi kompas mengenai hal ini. Tanggal 10 September 2014 sore hari melalui Telepon, kepada Calvin, dengan meminta maaf dan berjanji akan memberitahukan kepada Manajemen.


Tetapi tahukah Rumah Sakit Bethsaida, betapa kekecewaan yang kami alami.

Pengalaman tidak menyenangkan dengan Rumah Sakit Bethsaida telah dialami saat perawatan yang pertama kalinya.
Saat dimana akhirnya kami harus memutuskan pindah Rumah Sakit ke yang paling dekat dengan keluarga, kami dengan segala pertimbangan mengambil langkah percaya kembali, dengan memutuskan bahwa kali ini will be better, we change the doctor and everyone learn from the mistake.
Saya rasa mengambil langkah percaya kembali bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. 
Note: mengingat betapa banyak orang memilih dirawat di luar negeri.
Selama perawatan yang berlangsung, semuanya berjalan seperti rumah sakit biasanya.

Keputusan untuk membawa kembali William kerumah disaat kondisinya demikian, karena tidak ada hal yang akan kami lakukan dirumah sakit kembali, sehingga kami bisa 24 jam bergantian menjaganya dirumah.
Tentupun saya sudah menyiapkan seandainya William berpulang dirumah, saya harus lakukan apa yang pertama kalinya, dan nasihat yang diberikan pada saya adalah "call the hospital".

Sayangnya rumah sakit dimana William terakhir dirawat memberikan jawaban yang begitu mengguncangkan saya saat itu. Saya tidak ada plan lainnya. Sayapun tidak sempat untuk merasa emosi, yang saya tahu, saya hanya berdoa saja.
Saya menelpon rumah duka dan mereka menyampaikan untuk mencari dokter di klinik terdekat.

Jam 15.30, Sulit sekali mencari dokter praktek disaat jam begitu. Teman yang merupakan kakak bagiku, Hiriyanto, tiba dirumah, dan dia membantu mencarikan dokter. Saat itu kami baru terpikir untuk menghubungi Pdt Andreas Loanka, namun kami urungkan karena takut akan ada dua pihak yang mencari. Ternyata ada juga keajaiban yang boleh kami rasakan, dalam kebetulan yang tidak kebetulan, Hiri akhirnya mencari Pdt Andreas dan kemudian dapat menghubungi Dr. Monica yang bersedia kerumah. Kiranya Tuhan yang membalas kebaikan mereka.

Persoalan mengurus surat-surat yang dibutuhkan untuk Akta Kematian tidak berhenti sampai disana.
Domisili William Tan di KTP adalah di Jakarta, sedangkan meninggalnya di Serpong, Tangerang.
Dari surat kematian yang dikeluarkan oleh dokter klinik, kami harus ke institusi setingkat diatasnya yakni Puskesmas. Di Jakarta membutuhkan Form A1 sedangkan di Tangerang tidak, sehingga Puskesmas tidak serta merta bisa keluarkan surat kematian. Hal ini menyebabkan Calvin harus bolak balik mengurus semua surat di Jakarta maupun di Serpong, Tangerang setiap harinya.
Sampai hari ini, tanggal 10 September akhirnya urusan surat kematian selesai agar bisa diserahkan untuk mengurus Akta Kematian.
Dalam suasana kedukaan, kami harus tetap berusaha menyelesaikan persoalan administrasi.

Seandainya Rumah Sakit Bethsaida tanggap semenjak awalnya, tentu cerita akan berbeda.
Tentulah saya juga belajar, ternyata tidak semua rumah sakit akan menerima pribadi yang meninggal dirumah, walau pribadi itu pasien rumah sakit itu beberapa hari sebelumnya dan rekam medis penyakitnya sangat jelas.

Saya tidak pernah menyesali membawa adik saya kerumah hingga dia berpulang, betapapun administrasi yang lebih ribet harus kami jalanin.

Namun kiranya hal ini boleh jadi pembelajaran.

Monday, 27 May 2013

What a great night for me?

When both of them - Daddy and Josh - fall asleep while I sing a lullaby.
Thanks God and Help me feel the precious moment on each daily simple thing.

Friday, 5 April 2013

Wall Track Hot Wheel - Toys - Buy or Borrow (Rent)

When I have kids, I become more frequently stop at the toys store.
Maybe I'm too serious therefore mostly I end up buying education toys or prefer buy a book.
I found an excuses which prevent me to buy a lot of toys, cause children easily get bored with their toys.
Even so, I remember my Daddy always brought Barbie for me which I love to have but have no memory to play with it (a prove that I barely play with it).
When I visit other friend or relatives house, sometime I think I shall buy a toys for Josh.
Since Josh love the car or train (as we introduce to the boy), then I think to have a real car track or rail train.
We got a present of rail train too early and it's didn't work since I kept it.
haven't had a chance to search for a car track, most of the time Josh played on his big brother house ^^ from a battery to manual one, from big size to very mini size track.

Yesterday I saw a Wall Track Hot Wheel (which cost you around $80) left unused on Josh's big brother toys box.
I get an idea to borrow it for a month and search the instruction from youtube and tradaaa....
Josh really happy to have it on our wall and he still amazed on how the car move on the track. Thanks to the big bro allowed us to borrow it ^^.

Oh there one part left, but still work.

Josh keep playing with his new toy


I buy a toys when:
- have a long term used
- have an education purpose
- Improving your creativity
- Something you can't try to create
- Affordable to my pocket (Not too expensive - hahaha)

Other than above criteria, I think to just borrow it or rent it.
Now days you can rent a toys and of course the hygiene must be a priority when you search the rental shop.
Never done it before, but I saw my friend rent a huge cooking stove toys for 1 month and it's cost you like 10% or less from the original price. I think that a good deal.
Just browse and we could find a rental shop for daily used (Party time), weekly or monthly.

Happy Playing!

Saturday, 24 November 2012

Another Phase of Life

Just a few days ago -20th Nov 2012, my mom have the surgery and the result shocking us.
A Cancer?
A deadly word for me.
A spreading cancer - that worsen our feeling.  
Need a few days for me to realized that our days won't be the same anymore. Since my daddy pass away, this the first time I came to felt this kind of miserable separation feeling. 
Need time to cope with it also.
What really calm me down cause I know I have God, while everything happen for a reason.

We still have a homework to communicate with our mommy and encourage her to the next treatment - chemo - another scary word for us considering the side effect. Right now, her condition is good, just bit hurt on the surgery area.

Day ago, I came to think whether we shall fight with the illness (encourage her to fight with it) or we just accept it and enjoy the left days.
But today modern medical exist with a reason right? After reading lot of article, heard a sharing from a similar survivor, I came to conclusion, why don't we gave a try to fight with it, if my mom agree too.

Sooo, hopefully the communication time going well. Pray for it.
Will share more about this.

P.S. I find it's harder to maintain my time with Josh now. I just started our own activity schedule a week before surgery and it's went well, but suddenly all must be postpone for a while.
Remind me that I shall really treasure the time and do the best.

Saturday, 3 November 2012

Love the animal?! - Dolphin

I wrote this post as I promise to express my point of view - here.

I have been visit Gelanggang Samudera - Ocean Dream twice in the last three months.

When the first time being there, I'm so enthusiactic on seeing the animal show.
The most awaiting show was Dolphin show.

The purpose might be showing that the animal is a smart creature and we shall love them.

As our first time visit was not too long, honestly I just felt the euphoria for enjoying the show.

But for the second time where I could spent my time from the morning till noon, something came into my thought and some part of my heart feel sad.

Do we, human, could really love the animal through this show? Or we just laugh, make fun of them for escaping our self from the stressful day?

There were:
Variety Animal Show
Bird and Sea-lion show
Dolphin show,
Dolphin and Mermaid show.

For the Dolphin show, there are 3 schedules in a day. For the Dolphin and Mermaid show - 2 times a day and 3 times on the weekend.
Don't know whether the Dolphin is the same one or not.

From what I see, When they could do the attraction, they got the reward (their food).

So, a simple thought came into my mind:
They do the same activities for several times a day, just for human watch their smart attraction, then their could get their reward.

Ok, I didn't know exactly how their trained the animal, etc.

If they are on their nature living, yes, they still need to search for their food.
But since human put them into captivity, they might loss their instinct on their habitat.

Ok, I'm surely not an animal freak lover nor a Greenpeace volunteer

But I do feel, will be more friendliness, more warm-hearted if we could enjoyed their smartness on their nature/habitat, not put them into the captivity and asked them to do attraction.

Wednesday, 31 October 2012

Walk the Talk - Consistency

Raising a kids might be toughs yet bring you happiness.
When Josh was still a baby, I felt a physically challenge - need to awake on the midnight, struggle for fully breastfeed, facing with the baby common problem, etc.
By the time he grown up,
and now as a toddler, I felt the challenge slowly but sure moved to emotional aspect.

Few weeks ago, my friend borrow a book for me, have a content of key points for handling the kids.
One of them is a consistency of your behavior (between word and action)
Beside the book, whenever I read from article on the internet, I might find the article emphasizing the important of parent's consistency in word and action.

When we are consistent, there will be a trust build on child-parent relationship.
From that, we hope our kids have positive behavior, have a good self esteem, etc. Parent wish the best for their kids, don't we?. We might then put the end of result as our goal and purpose for being consistency.

Saturday Oct 20, We went to a small parent group where discuss about marriage from book (Sacred Marriage - Gary Thomas).
Quote from the Book:
"Bagaimana saya dapat mengatakan kepada anak-anak saya bahwa janji Allah mengenai perdamaian pasti ditepati jika mereka melihat bahwa janji saya sendiri tidak berarti apa apa?
Salah satu alasan saya bertekad untuk mempertahankan perkawinan saya bukanlah karena dengan demikian saya akan lebih bahagia (meskipun saya percaya saya akan lebih bahagia); bukan karena saya ingin anak anak saya memiliki rumah yang aman (walaupun saya memang menginginkannya); bukan karena saya akan hancur melihat isteri saya "mulai lagi" (walaupun memang demikian). Alasan pertama  mengapa saya mempertahankan perkawinan saya adalah karena itu adalah tugas saya. Jika hidup saya bertujuan untuk menyampakan pesan Allah kepada dunia, saya tidak ingin melakukan apa apa yang akan menentang pesan itu. dan bagaimana saya dapat menyampaikan perdamaian apabilsa saya mencari perpisahan?
Analogi mengenai perdamaian ini lebih dari sekedar memberikan tujuan pada perkawinan kita. hal itu juga membantu kita untuk mempertahankan tujuan itu, bahkan saat "kilat menyambar"

(I still haven't had the English book, but you can googling the book and look at the Chapter 2).

Suddenly I thought, will that reason shall be the same with the reason of me as a parent being consistent on my word and action towards my son?
As God is a Faithful God, and God keep His promise.
How could I told my son that our God is a Faithful God and keep His promise if I as a parent do broke the promise?
Through our consistency as a parent, we let the children feel that God is a Faithful God in our life.

I'm still learn how to be consistent and how to practice it on my daily life toward Josh.
Walk your Talk.
Pray may God help us and grant us a wisdom as a parent.