"Yeay Gorengan"
Isinya Kol, Wortel tok.
Buat lebih sehat dikit makan sama telur kucai.
Didn't realized from 3 years ago I have been in this Class. The class name changes from Yosua, Matius, to Markus.
Next semester I will miss them hehehe.
They are full of energy, they love to cuddle with you.
Since I couldn't get to active, for this time, I decide to take a break.
Pray they keep growing in Christ.
Hasil test darah keluar.
Dan salah satu hasilnya adalah Insufficient of vitamin D.
What??? Unexpected result untuk bagian itu.
Rasanya setengah tahun ini aku sudah menambahkan multivitamin dalam keseharian, termasuk juga mengatur makanan.
Hmmm... Apakah mungkin efek selama dua bulan ini diriku yang sudah seperti kelelawar jarang keluar saat pagi maupun siang hari? Kalo tidak terpaksa untuk pergi jemput Josh dan antar Josh ke tmpt les, aku akan berada didalam rumah.
Setelah kucari tahu, yang paling efektif memang meet with the "sun" dan jam yang paling tepat adalah di atas jam 10 siang dan sampai jam 3 sore. Yakni dimana bayanganku lebih pendek dari tubuhku.
Dimulailah kegiatan Sun Shower ku.
Hmmm andai ini di pantai, sayangnya di halaman rumah.
Sayang juga menyiram tanaman, karena waktu demikian air cepat menguap, jadi seperti membuang air.
Anyway, semoga terus bertahan...
Oh... Jangan heran kalo setelah berbulan tak bertemu aku akan lebih "tan" lagi after meeting the sun. Xixixixi
Setiap tanggal 4 September, entah bagaimana rangkaian kenangan tentangnya seakan terulang kembali. Jam demi jam sampai waktu berpisah selamanya.
4 tahun berlalu, ada perpisahan dengan Ibu Ani, salah seorang yang terus mengencourage keluarga kami selama WT sakit. I believe both of you in heaven now.
Walau demikian, setiap tahun juga selalu ada kenangan baru yang menghiasi kesedihan itu. Heboh dengan Asian Games, datangnya teman sekampusmu di hari ultahnya hingga adanya Seminar Dr Steven J. Lawson hari ini tentang ayah yang meninggalkan warisan bagi anaknya, membuatku bisa melalui hari demi hari dengan lebih bersemangat. And all because God's Grace.
You will still be my best brother. I'm waiting to meet you again.
I like to watch movie. After married, I always prefers the romantic comedy, detective, human life genre.
But barely and avoid choosing the mellow one.
Last night I came to watch japanese movie based on real story - 8years bride.
Oh no, I cried from beginning to end.
Didn't know whether the movie really sad (yes it's sad but happy ending), or just me who easily cried and was on a mellow mood. If I was an actor, I will be great on crying scene *grin*.
Hmmm I guess, sometime it was a good theraphy to let my tear brust out, when I don't know how to express my mellow mood.
Dear Josh. Your mom is just a human being. Same as you. So one day if you feel you want to cry, just let it be.
When you are stay at home mom, during all the house chores, could you still exprience God with all the daily routine?
The answered is Yes!
For example, if I only think that clean the house is boring and repeated all the time, than it become like that.
But when I start to think that clean the house is making a place comfortable and feeling all nice to our family, then I got to experience when God create all things, He make it beautiful. It's make me happy to do it.
Of course not all the time I can keep the house clean, but I will always try to do it.
Many months before, I start to grow microgreen. But at that time, it's totally failed.
Most because the seed's growth probability getting lower according to time.
Therefore, I brought a new seed and start it again last week.
At first, I wondered why not all the seed grow together. Starting to lose hope.
But then, I keep watering and put it under the morning sun.
Then I saw other seed start to grow also.
One week after, yeay, finally I could taste it and used it for Josh's lunch box - I'm making sandwich for him.
There were 2 tray left.
It's another amazing process for me.
To patiently wait, keep care, not lose hope and finally got blessed with a wonderfull microgreen baby spinach leaves. I'm still in a journey of life and during the hard times, I need to remind of those spirits.
I wish Josh could experience God in his daily life also.
An August month always left undescribe feeling in my heart.
But if I saw it back year by year there always new moment created.
So yesterday, I have a short moment to meet with two of lovely friends from SAAT Malang.
They all served in church now with all the blessing and struggle.
Love to hear from them and pray for their ministry.
Wait for another moment with them.
Beside Josh became a 3rd grade student, I also need to adapt with the new schedule.
Wake about 5am, couldn't have a nap time, fall asleep between 9-10pm.
It's work for a week.
Coming on the 2nd week. I'm struggling now. I'm night owl person. I love the quiet night. But now I need to stop all my activity earlier. Yet I still couldn't easily fall asleep.
I felt the most tired at 7pm. It's the time when calvin arrived home. These two days I have an ugly conversation with him which I regret it later. I keep push him and complain for little simple thing. Sigh.
I read about Paul trip article about this.
"We all live in an endless series of mundane moments and little conversations. The next time you have a little conversation that turns ugly, don’t argue for your righteousness, shift the blame, or run away. Instead, appeal to the one thing in your life that’s sure and will never fail.
Leave the courtroom of your own defense, come out of hiding, and admit whom you are. But do so unafraid, because you’ve been personally and eternally blessed. Because of what Jesus did, God looks on you with mercy."
I pray I could do it better next time.
This morning I came to Calvin and said I'm sorry. He also knew that I'm tired.
My other plan, to write on this blog more often to ease my mind.
Hopefully I can adjust soon!
I put name on the list for the Painting Event. But then I think, I will let mom to do it.
I have lot of thing to do in a moment, and I'm glad, Mom receive my offer.
Around 15 peoples sit together and start to draw.
I choose an Owl theme as I think to put it on my sista room.
So let the picture tell the story.
Thanks to Bu Yona for organizing the event.
Awal September ini menandai tahun ke tiga dimana adik terkasih berpulang.
Sudah tahun ketiga namun ingatan masa masa akhir bersamanya selalu berulang.
Tahun ini dengan kemurahan hati Tuhan, aku boleh mengikuti pelayanan ke Solo dari tanggal 31Agst hingga 2Sept.
Persiapan yang telah dilakukan dari awal Agustus membuat aku terfokus untuk memberikan yang terbaik. Rasa sedih yang bisa menyergap seakan tidak mempunyai tempatnya.
Pertemuan dan perayaan ulang tahun dengan teman sma yang sudah lama tak berjumpa pun memberikan aku kenangan baru.
Saat malam menjelang, masuk ke kamar, melihat buku yang kubelikan untuk Josh tergeletak di lantai, sayup sayup ingatan itu kembali. Yah buku yang membantu aku menjelaskan ke Josh perpisahan itu.
I miss him. Yes, I will always feel the same. But, I Believe God help me go through this all.
Pembacaan Firman Tuhan hari ini diambil dari Yoh 4 - cerita tentang perempuan samaria.
Tuhan Yesus mengatakan: Makanan Ku ialah melakukan kehendak BapaKu dan pekerjaanNya.
Berdoa kiranya di sepanjang sisa hidupku, aku telah turut berjuang melakukan kehendak Tuhan dan pekerjaanNya. Memberi makan diriku dengan hal yang kekal.
Cukup lama mempertimbangkan hal ini hingga akhirnya memutuskan untuk menjalani operasi.
Berawal dari keinginan untuk mempunyai adiknya Josh jika Tuhan ijinkan.
Dalam kenyataannya sesudah hampir 1.5 tahun mencoba, hal yang dirindukan tak kunjung datang.
Awal January, kami datang kepada Dr. D di gading serpong.
Dari pemeriksaan Dr. D, beliau menemukan myoma di posisi yang sulit dan menyarankan untuk diangkat saja.
Wah. Haruskah hanya dengan cara operasi? Apakah tidak ada cara yang lain? Apakah memang saluran sel telur ke rahim susah?. Segudang pertanyaan dikepalaku.
Dr. D pun menyarankan aku untuk Hsg. Jadwal yang kudapat di bulan Maret karena memang ada hari tertentu untuk pemeriksaan ini.
Keluar hasil Hsg, aku lebih ceria, karena ternyata tidak ada sumbatan.
Sebenarnya Dr. D bilang, untuk menstruasiku pun masih terbilang lancar.
Jadi jika ingin menjajal cara yang paling biasa dengan tambahan obat hormonal yang diminum, maka di coba saja dulu.
Dr D. Juga infokan bahwa myoma ini membuat pelekatan di rahim susah.
Yah dimulailah usaha yang pertama.
Ternyata memang tidak mudah, gugur.
Dalam hatiku, aku mulai memikirkan usiaku, dan apakah memang harus dijalan operasi.
Satu malam, aku keingat hasil Hsg, aku bongkar lagi dan aku lihat, mengapa ada 2 bongkahan yang terlihat yah, depan belakang, dengan yang depan lebih besar.
Akhirnya saya dan Calvin berkeputusan untuk cari 2nd opinion, tepatnya dengan Dr yang dulu tanganin operasi endrometrial mama, Dr. S di PIK.
Pulang dari liburan, kami pun bergegas dengan waktu, mengingat Jadwal Josh masuk sekolah.
Hari ini 12 July 2017, masuk ruang operasi jam 2. Pengalaman pertama di ruang operasi yang biasa saya lihat di film film. Yang juga membuat grogi adalah bius spinal, banyak yang mengatakan akan sangat sakit.
Herannya, saya tidak merasakannya. Justru yang paling sakit adalah pas test apakah ada alergi antibiotik di bawah kulit.
Hanya saja memang mual sekali rasanya sesudah operasi selesai.
Hasil dari operasi.
Diangkat 5myoma. 1 yang terbesar 3.9cm. 1 temannya 3cm (ini yg rasanya di belakang, sehingga usg selalu terlihat satu saja), sisa lainnya ukuran 1cm.
Hal lainnya yang harus kusyukuri, hari menstruasi yang harusnya di tanggal operasi malah bisa maju 3 hari, sehingga saat operasi, ketidaknyamanan karena menstruasi terhindari.
Hari ke 2 pasca operasi merupakan hari terberat untukku, selain mual, jahitan mulai sakit, sekaligus juga lambung kembung dan nafas terasa pendek.
Untung hal itu tak berlangsung lama.
Hari ke 3 saya sudah mulai bisa tertawa. Walau tertawa yang artifisial banget karena tidak boleh menggoncangkan bagian perut bawah.
Malam hari dikunjungi oleh adik, ngobrol dengan mama yang menemaniku 2 hari dirumah sakit sepanjang siang. Hmm time may passed, but it will remain in my memory.
Total tinggal di rumah sakit 4hari 3malam. Ini kali ketiga masuk dirumah sakit.
Kali pertama masa kecelakaan dahulu, kali kedua masa melahirkan Josh.
Aku tak pernah suka rumah sakit, tapi aku salut untuk orang-orang yang bekerja didalamnya.
Bersyukur untuk segala moment keadaan yang Tuhan ijinkan ada dalam hidupku.
Semoga membuatku lebih baik didalam hidup yang seharusnya memancarkan kasihNya.
Sekarang masa kesakitan itu sudah lewat. Tinggal komitmen untuk hidup lebih sehat lagi.
Pengaturan waktu tidur menjadi pe er utama yang tak kunjung selesai *blush*.
Pahit!
Yeah, daun pepaya pahit, jaman kecil masih sempat cicipin pas makan pecel, namun saat ini daun pepaya dikeluarkan dari menu makan karena rasa pahitnya.
Tetapi lidah yang diciptakan bisa mencicipi berbagai rasa pasti bukan tanpa rencana.
Berbagai rasa, asin, asam, manis, pahit, berbagai jenis makanan yang bisa diolah dan dimakan, aku percaya ada guna nya bagi tubuh kita.
Ups, bukan karena sadar ini sih aku jadi mencoba daun pepaya lagi.
Hanya karna habis berkunjung ke dokter dan hasil bincang-bincang sang dokter menyarankan untuk konsumsi daun pepaya seminggu sekali lah.
Karna mendapat wejangan, saat ke toko buah dan melirik bagian sayur mayur, eeeehhh ada daun pepaya, sebungkusan 2ribu rupiah. Dalam hati, beli ajah, ngapain susah susah berpikir mau ajak Josh ke taman belakang metik daun pepaya ;p. Lagipula musim hujan pula.
Sudah macam ada waktunya, pagi-siang terik matahari sampai kulit mengosong (setidaknya jemur baju pasti kering). Mulai siang mendung dan hujan sepanjang waktu sampai sore bahkan malam.
Pulang rumah, langsung kukus buat gadoin makan sama sambal bawang.
Gigitan seuil lembaran pertama, alamakkkkkkk pahit nyaaaaa... itu tertinggal di lidah dan mulut.
Alhasil dari segepok daun, hanya selembar yang dihabiskan.
Bahkan my sista yang biasanya doyan sayur, hanya bisa makan tiga lembar.
Aku bilang ke Daddy, I think I choose "Pare Juice" ketimbang harus nelen daun pepaya.
Wait, something might wrong here.
Menurut my sista, waktu dia makan di warung bebek, rasa daunnya enggak sepahit ini.
Mulailah cari tahu, cara mengurangi pahit daun pepaya.
Banyak cara ternyata, tapi memang dasarnya pilih daun pepaya ku salah, terlalu tua, mestinya rajin ke pasar, cari yang muda.
Nah, sisa daun pepaya mau dibuang sayang, mau direbus, rasanya tak kuat makannya.
Tradaaaaa, ketemu solusinya, ingat tempura, yups, ada daun digoreng kan.
Jadi sebagai makan siang hari ini, kubuatlah tempura daun pepaya :). Dengan telur dan sambal, yummy....
Oiya, rasa tetap pahit, tp setidaknya better. Jangan tanya soal berkurang nutrisinya, pasti iyalah yah digoreng. Hal ini hanya ide untuk lidahku mampu mengakomodir pahitnya daun pepaya tua ini.
Kegunaan daun pepaya? Please google it.
Ciao.....